Postingan

Ibu Para Senja

“Bunda…” Sebilur perih memaksaku mengadukan bagaimana pertandingan tadi siang yang tidak bisa kumenangkan. Kuhampiri Bunda di halaman belakang. Seperti biasa, beliau sedang memberi makan ikan di kolam peninggalan ayah. “Bunda, aku kalah.” Tak tahu berapa banyak ikan yang berenang mengerubuti butiranbutiran empan yang bunda tebarkan. Meskipun setiap hari empan dibuang kesana, air di kolam itu tak pernah menjadi keruh. Demikian pula ikan di dalamnya, tetap berenang berkeliling, belum ada yang tibatiba mati mengambang. Bunda juga tidak pernah bosan meninggalkan sejenak kesibukannya untuk duduk mencemplungkan kakinya sembari menebarkan empan kesukaan para ikan. Aku duduk di samping Bunda, tak ada gerak lanjutan yang lahir dari hal yang kulakukan barusan. Sepasang kakiku tanpa perintah ikut nyemplung ke dalam kolam.  Dan ikan pun ikut berebut mengerbungi sepasang kaki yang baru saja masuk ke wilayah teritorial mereka, seakan memohon untuk ikut dikelitiki sebagaimana se...

Sembilan Belas

Jika bukan janji kepada salah satu temanku, mungkin aku tidak akan menuliskan ini. Kemarin tanggal 21 Agustus, ada yang tahu itu hari apa? Benar! Itu adalah hari kamis. Lalu apa istimewanya? Itu hari kelahiranku yang terulang 19 kali selama aku hidup. Istimewa ya? Tidak mungkin menurut kalian. Tapi menurutku istimewa. Jika tanggal 21 agustus kemarin aku tidak ulang tahun, kawan di kampusku tidak akan belabelain mengetik “selamat ulang tahun, Ahmad” di google speecs tengah malam. Karena perbuatannya itu, google, yang merupakan mesin pencari terkenal kedua sedunia setelah Tuhan ikut mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal, jika kalian tahu, temantemanku di kampus kadang enggan mengungkit siapa sebenarnya diriku karena sifat introvert berlebihan yang aku anut. Atau aku yang terlalu berprasangka buruk kepada mereka? Setidaknya perbuatan mereka saat dini hari kemarin telah menghapus prasangka itu. Teman kadang memang puny acara unik untuk menunjukan bahwa mereka adal...

Rayninta

Sebuah roman selalu menghadirkan perasaan tergugah karena membacanya. Begitu pula dengan kisah yang kualami ini, entah dapat disebut roman atau bukan, silakan definisikan menurut perasaan masing-masing yang begitu dalam. Saat itu seperti laki-laki biasanya aku beraktifitas. Menjalani kehidupan yang sudah uzur umurnya, berinteraksi dengan ekosistem sambil bersimbiosis bersama mereka yang menempati habitatnya. Tak ada yang menyedihkan, tak ada yang membosankan, yang ada hanyalah kegembiraan dalam suasana yang merdu itu, saling berbagi serta menghargai, dalam melodi penuh arti. Hanya ada dua manusia dalam simponi hidup ini, laki-laki dan perempuan, yang bermanfaat dan tidak, yang baik dan jahat. Entah berapa banyak macam lagi yang dapat menjelaskan bahwa manusia itu hanya ada dua jenisnya. Karena semua mahkluq diciptakan sepasang-sepasang. Sekali lagi, petang itu aku berkumpul dengan yang lainnya. menertawakan keindahan sepuas-puasnya. Kadang beberapa pelajaran dalam hidup ...

Kau

Setiap saat hendak bersajak Kuingatkan kau: "Tidak semua orang mampu menulis dengan imajinasi". Kau punya banyak macam imajinasi untuk membuat puisi Dan kau pernah bertanya: "Kau mau imajinasi jenis apa? untuk tulisan tentangmu?" Dengan refleknya aku menjawab: "Imajinasi spesialmu". Di hidupku, telah lahir banyak imajinasi Kuda berenang menggunakan sayapnya Ular terbang dengan siripnya Tapi yang paling spesial adalah: Kau. Biar cuma satu kata Meski cuma berhuruf tiga Kurasa, itu adalah imajinasi spesialku Yang tidak bisa, kubagi kepada siapapun. Semoga kau bukan hanya imaji

Setahun yang lalu stasiun tidak bisu

Bukan siang yang mengejar petang, bukan orang yang memanen uang. Beberapa kumpulan pedagang di kala siang Berusaha dalam keadaan yang katanya memungkinkan Memperjuangkan sesuatu berlabel kehidupan Dengan senyuman, dengan keikhlasan Siang itu saya menunggu kereta di peron dua, hendak pulang. Sesekali pandangan saya menyapu sekeliling stasiun Universitas Indonesia. Bersih sekali, aktifitas banyak ditemukan, tetapi interaksi sangat kurang, orang-orang sibuk dengan urusan pribadinya, dengan gadgetnya, dengan kekasihnya, dengan pikirannya yang mengawang-ngawang. Dulu, setahun yang lalu di tempat orang-orang yang sekarang berlalu Ada senyuman yang tidak pilu, ada perjuangan yang tidak semu Perjuangan pedagang untuk kelangsungan hidup anak cucu Siang itu saya mengingat bagaimana tahun lalu sesekali pergi ke sini, ke stasiun yang katanya punya kampus UI, kampus perjuangan. Mengelilingi kios-kios pedagang buku bekas, mencari ilmu dari pedagang yang menyambung hidup den...

Hargailah proses

Siang itu mega mendung memayung Batu dan tanah asik bersanding berduaan Batu yang diam membuat tanah tak tahan Diajaknya batu berbincang "Untuk apa kamu berada disini, disampingku?" Batu tetap diam Membatu Kemudian menatap tajam mata tanah tak dijawab pertanyaan tanah Tanah tak menyerah ia kembali berbicara "Kau tahu bagaimana manusia diciptakan? ia bermula dari diriku yang segumpal kemudian berubah menjadi cairan yang ditanam dalam rahim seseorang berjenis kelamin perempuan yang kekuatannya sangat sulit ditandingkan" Tanah kelelahan batu tidak bergeming apalagi menggumam Tanah tetap tidak mau menerima kekalahan mulutnya kembali menggumam "Setelah lahir  dari rahim bernama perempuan Manusia tumbuh dan berkembang menerima banyak pelajaran pengalaman, angka, huruf guru, teman, kesibukan..." Tanah menarik nafas panjang Menunggu batu mengucapkan tanggapan Sedangkan batu tetap diam Tanah tak tahan ia membentak "R...

Wiji Thukul dalam Teka-Teki yang Ganjil

Ketika seni diartikan sebagai suatu hal indah yang diungkapkan, Wiji thukul memberikan penafisiran berbeda, sebagai seorang penyair ‘pemberontak’, ia mendefinisikan puisi (yang merupakan bagian dari seni) sebagai sebuah rasa bebas dan aktif. Bebas dalam artian mampu mengungkapkan dan menyeruakan apa yang dilihat dan dirasakannya, tidak diam dibungkam orang lain  yang tidak menerima jika hal tersebut (apa yang dilihat dan dirasakan) diungkapkan ke khalayak luas. Sedangkan aktif sendiri, diartikan sebagai mampu membaca situasi, memberitahu orang lain, berbicara, bergerak, tidak diam.             Penyair bernama asli Wiji widodo ini lahir di desa kecil di solo pada tanggal 26 agustus 1963, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai tukang becak dan buruh. Anak sulung dari tiga bersaudara ini lulus pendidikan menengah pertama pada tahun 1979. Kemudian melanjutkan ke sekolah menengah karawitan Indonesia, sayangnya dalam menempuh p...