Sembilan Belas
Jika bukan janji kepada salah satu temanku, mungkin aku
tidak akan menuliskan ini.
Kemarin tanggal 21 Agustus, ada yang tahu itu hari apa?
Benar! Itu adalah hari kamis.
Lalu apa istimewanya?
Itu hari kelahiranku yang terulang 19 kali selama aku hidup.
Istimewa ya? Tidak mungkin menurut kalian. Tapi menurutku istimewa. Jika
tanggal 21 agustus kemarin aku tidak ulang tahun, kawan di kampusku tidak akan
belabelain mengetik “selamat ulang tahun, Ahmad” di google speecs tengah malam.
Karena perbuatannya itu, google, yang merupakan mesin pencari terkenal kedua
sedunia setelah Tuhan ikut mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku.
Padahal, jika kalian tahu, temantemanku di kampus kadang
enggan mengungkit siapa sebenarnya diriku karena sifat introvert berlebihan yang
aku anut. Atau aku yang terlalu berprasangka buruk kepada mereka? Setidaknya
perbuatan mereka saat dini hari kemarin telah menghapus prasangka itu. Teman
kadang memang puny acara unik untuk menunjukan bahwa mereka adalah mahkluk pra
nomaden yang ingin nomaden di hati kita, meskipun kadang itu bukan habitatnya.
Ah, susah ternyata menjelaskannya.
“Mat, pinjem leptop” katanya.
“pake aja”
Saat itu aku di Kosan salah satu kawanku juga. Kalian tidak
perlu tahu siapa namanya. Aku sedang jatuh cinta mengendapkan diriku pada novel
‘Dilan’ karangannya ayah Pidi Baiq saat itu. Jika kamu belum membacanya,
bacalah, Tuhan yang menitahkan untuk membaca. Entah di halaman berapa aku
mengendap saat itu, dan tibatiba laptopku bersuara.
“ …….. (suara laptop yang kurang jelas) ” aku tetap jadi
endapan dalam ‘Dilan’.
“Mat, dengerin dong…”
“Apaan si?” Kupelototi dia.
“Tanggal 21 ini” Kata temanku yang lain.
“Selamat dulu, dong. Dari gua” Kata temanku yang tadi pinjam
laptop.
Aku bengong. Lupa bahwa saat itu adalah hari jadiku. Padahal,
jauhjauh hari sebelum tanggal itu tiba aku berencana, entah apa rencananya aku
lupa. Ah, waktu, selalu saja memberi sesuatu dalam hidupku. Pikun contohnya.
Dan penyebab bengongku satu lagi, adalah temanteman baruku ini. Ternyata
meskipun semuanya berasa tak acuh pada diriku, mereka ingat akan tanggal 21
ini.
Entah aku yang terlalu pikun.
Neuron dalam organ tempat berpikirku serasa ada yang
mengecup. Kecupan dari Tuhan, agar aku mengingat sudah sejauh mana bersyukur
selama 19 tahun kebelakang. Oiya, aku hampir lupa membalas jabatan tangan
temanku.
Entah kenapa pikiranku tentang hari dirgahayu selalu
mengikuti arus lingkungan, harus membuat sesuatu yang spesial, entah kenapa.
Salah satunya aku berhasil menyelesaikan novel ‘Dilan’ dini hari itu juga. Artinya,
aku meninggalkan usia 18 dengan mengendapkan diri dalam novel ‘Dilan’ seharian
penuh, saat itu hari rabu. Entah akan melakukan apa aku nanti jika melewati
hari terakhir dalam hidupku, aku tidak tahu. Setelah selesai temantemanku
mengajak keliling kampus untuk menunggu pagi, aku mengiyakan, padahal enggan,
karena kemarin malam di jam yang sama aku telah mengelilinginya, anggaplah
sebagai traktir dariku, traktir tenaga.
Entah aku yang
terlalu perhitungan atau apa. Aku hanya ingin memandang hal itu seperti itu,
kata orang sih berpikir positif, karena uangku masih belum positif.
Sejujurnya, setelah itu aku ingin sekali membuka jejaring
media. Romantika dunia maya terlalu membuatku begitu candu.
Selama di kampus, aku bersama temanteman langsung pergi ke fakultasku.
Melawati gerbang kutek (kukusan teknik-red), dan langsung menyebrang sambal
berfoto ria di tengah jalan sebelum masuk fakultas teknik. Obrolan tidak akan
hilang saat itu, mengusir takut katanya, saat itu langsung mengambil jalan ke
jembatan teksas (teknik sastra-red), lampunya mati, temantemanku takut, ada
satu yang terus jalan.
“Takut gua” Kata temanku.
“Kemaren ada yang merahmerah, noh masih ada”
Kemarin memang aku lewat jembatan itu dan kawanku yang
bersamaku saat itu memberitahuku bahwa di sampingku ada merahmerah. Saking
takutnya aku terus menyebut asma Allah. Kawankwanku yang beramairamai saat itu
juga demikian, mereka semua balik badan hendak meninggalkan diri.
“Orang yang merahmerah itu stasiun listrik, bukan Lady Red.
Lanjut aja, ayo.”
Aku terus melangkah, sembari tertawa, temantemanku juga
sama. Soal Lady Red, itu adalah salah satu sosok ‘yang betah’ tinggal di
kampusku, perempuan warna bajunya merah. Nanti jika bertemu dengannya cobalah
tanya; kapan pulang ke rumah?
Setibanya di fakultasku, tak ada yang istirahat, terus
lanjut berjalan. Ingin nostalgia di tempat latihan drama, katanya. Oiya, setiap
tahun fakultasku mengadakan acara, Festival Budaya namanya. Jika waktu kalian
luang, sempatkanlah datang. Biasanya, acaranya dilaksanakan akhir tahun,
sungguh, sangat meriah.
Sebelum tiba ke tempat tujuan, salah satu temanku heboh.
“Mau berak euy, dimana ya?”
“Balai sidang aja, deket” jawab temanku yang satu lagi.
Balai sidang itu tempat sidang. Sepertinya sidang tesis atau
disertasi.
Temanku yang menahan hasratnya bersodaqoh pada kloset
berlari, berdua, ia minta ditemani.
“Kita nyusul” Seru temanku yang lain.
Ke balai sidang jaraknya tidak jauh, aku dan temanku yang
lain tidak lama menyusulnya. Sesampainya disana semua yang ada di situ mendengarakan
pujipujian pada Tuhan dari temanku yang diizinkan melepas hasratnya di tempat
yang tepat.
Kenyataannya, jalanjalan malam itu hanya mengantar salah
satu temanku buang hasrat. Jika kamu ingin tahu siapa orangnya, mari datang ke
kampus nanti kuberi tahu.
Sepulangnya ke kosan aku sholat subuh, kemudian langsung
pulang.
Di rumah baru pasang speddy. Tepat di hari jadiku yang ke
19.
Kehebohan di rumah tidak riuh. Aku tidak peduli dan enggan
menceritakannya, ibuku masih ingat hari kelahiranku yang penting.
Dan pada malam harinya, aku berdialektika panjang dengan
beberapa kawan lama. Lucu memang, andai kalian tahu, saat itu banyak sekali
pelajaran yang kudapatkan. Ah, kenapa tulisanku jadi ngelantur begini.
Usia 19 ku tidak akan terlupakan.
Komentar
Posting Komentar