Rayninta


Sebuah roman selalu menghadirkan perasaan tergugah karena membacanya. Begitu pula dengan kisah yang kualami ini, entah dapat disebut roman atau bukan, silakan definisikan menurut perasaan masing-masing yang begitu dalam.

Saat itu seperti laki-laki biasanya aku beraktifitas. Menjalani kehidupan yang sudah uzur umurnya, berinteraksi dengan ekosistem sambil bersimbiosis bersama mereka yang menempati habitatnya. Tak ada yang menyedihkan, tak ada yang membosankan, yang ada hanyalah kegembiraan dalam suasana yang merdu itu, saling berbagi serta menghargai, dalam melodi penuh arti.

Hanya ada dua manusia dalam simponi hidup ini, laki-laki dan perempuan, yang bermanfaat dan tidak, yang baik dan jahat. Entah berapa banyak macam lagi yang dapat menjelaskan bahwa manusia itu hanya ada dua jenisnya. Karena semua mahkluq diciptakan sepasang-sepasang.

Sekali lagi, petang itu aku berkumpul dengan yang lainnya. menertawakan keindahan sepuas-puasnya. Kadang beberapa pelajaran dalam hidup memang harus diingat dengan menertawainya. Seperti keberadaan seorang perempuan anggun dengan lingkar bulat matanya dikejauhan, ia juga menertawakan sesuatu yang entah apa ada dalam pikirannya, begitu mempesona dan membuat hati penasaran ingin mengetahuinya.

Gila memang jika selalu tertawa tanpa mereka tahu apa itu penyebabnya. Hingga seorang sahabat yang duduk disebelahku bertanya kenapa, kujawab “gunakan indra pengelihatanmu untuk mengetahui tentang seorang puan sedang tertawa di sana, sungguh, memikat sekali” kugunakan telunjuk kananku untuk membuatnya lebih mudah dipahami, dan sahabatku itu ikut tertawa dengan senyum pertanda menyetujuinya.

Jangan katakan bila saling balas memandang hanya hal yang bukan apa-apa. Siapapun pasti tak kuasa jika mengalaminya, begitu pula aku yang langsung tertunduk sejenak menyiapkan senyum kemudian menyunggingkannya. Jangan tanya kenapa pula ketika pandangan mataku tiba-tiba sumringah ketika perempuan itu membalas senyumku. Benar-benar saat itu aku tak bisa menjawab pertanyaan: nikmat Tuhan manakah yang harus kudustakan?

Dua hari setelah itu, aku dan yang lainnya berkumpul kembali di tempat juga waktu yang sama. Disaat yang lain menertawai hal-hal yang itu saja, aku hanya tersenyum sembari menghisap dalam tembakau basahku. Dan kelakuan seperti itu, kembali membuat penasaran sahabat yang duduk di sampingku. Sebelum ia bertanya kenapa, kujawab lebih dulu: “namanya Rayninta”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alur Perjalanan Seorang Tukang Roti Keliling

Memang Demikian Harusnya

Soe Wan Tie