Ibu Para Senja
“Bunda…”
Sebilur perih memaksaku mengadukan bagaimana pertandingan
tadi siang yang tidak bisa kumenangkan. Kuhampiri Bunda di halaman belakang. Seperti
biasa, beliau sedang memberi makan ikan di kolam peninggalan ayah.
“Bunda, aku kalah.”
Tak tahu berapa banyak ikan yang berenang mengerubuti
butiranbutiran empan yang bunda tebarkan. Meskipun setiap hari empan dibuang
kesana, air di kolam itu tak pernah menjadi keruh. Demikian pula ikan di dalamnya,
tetap berenang berkeliling, belum ada yang tibatiba mati mengambang. Bunda juga
tidak pernah bosan meninggalkan sejenak kesibukannya untuk duduk mencemplungkan
kakinya sembari menebarkan empan kesukaan para ikan.
Aku duduk di samping Bunda, tak ada gerak lanjutan yang
lahir dari hal yang kulakukan barusan. Sepasang kakiku tanpa perintah ikut
nyemplung ke dalam kolam. Dan ikan pun
ikut berebut mengerbungi sepasang kaki yang baru saja masuk ke wilayah teritorial
mereka, seakan memohon untuk ikut dikelitiki sebagaimana sepasang kaki
disampingnya yang lebih dulu nyemplung kesana.
Bunda menengok ke arahku. Kepalanya mengangguk perlahan,
seakanakan beliau mengetahui apa yang kurasakan. Kemudian bunda tersenyum.
Senyumnya adalah hembusan angin yang begitu lembut.
Aku terbuai. Tak tahan untuk tidak merebahkan kepalaku dalam
pangkuannya. Sebagaimana nelayan yang menemukan pelabuhan, ba’da kelelahan
berkencan dengan laut. Tanpa memberi abaaba Bunda membelai rambutku yang begitu
kusam, lama tidak berkeramas. Aku terpejam, mengingat peristiwa tadi siang.
Sejenak kupandangi wajah Bunda. Raut wajahnya terlihat
begitu teduh, meski ada beberapa keriput yang menandakan beliau telah lama
hidup. Keningnya sedikit gelap, begitu kontras dengan warna wajahnya yang kuning
langsat. Rambutnya yang tergerai, berayunayun dimainkan hembusan angin.
Semburat jingga yang diruahkan senja memberi kesan ramah kepada siapapun yang
memandangnya.
Suara kecipak ikan begitu berisik menggoda kelopak untuk
menelan bola retina di dalamnya. Bunda terpejam, demikian pula aku, seketika
kesadaranku terbang.
“Maafkan aku, Bunda.”
***
Jakarta, 01 September 2014
Komentar
Posting Komentar