Setahun yang lalu stasiun tidak bisu
Bukan siang yang mengejar petang, bukan orang yang memanen
uang.
Beberapa kumpulan pedagang di kala siang
Berusaha dalam keadaan yang katanya memungkinkan
Memperjuangkan sesuatu berlabel kehidupan
Dengan senyuman, dengan keikhlasan
Siang itu saya menunggu kereta di peron dua, hendak pulang. Sesekali
pandangan saya menyapu sekeliling stasiun Universitas Indonesia. Bersih sekali,
aktifitas banyak ditemukan, tetapi interaksi sangat kurang, orang-orang sibuk
dengan urusan pribadinya, dengan gadgetnya, dengan kekasihnya, dengan
pikirannya yang mengawang-ngawang.
Dulu, setahun yang lalu di tempat orang-orang yang sekarang
berlalu
Ada senyuman yang tidak pilu, ada perjuangan yang tidak semu
Perjuangan pedagang untuk kelangsungan hidup anak cucu
Siang itu saya mengingat bagaimana tahun lalu sesekali pergi
ke sini, ke stasiun yang katanya punya kampus UI, kampus perjuangan. Mengelilingi
kios-kios pedagang buku bekas, mencari ilmu dari pedagang yang menyambung hidup
dengan menjual buku. Sesekali, jika ada lebih rejeki, saya membeli beberapa
buku untuk menambah bacaan di rumah.
Sekejam inikah realitas?
Tempat yang dulunya untuk menjual buku bekas
Menjadi sepi terpanggang panas
Tak ada obrolan lepas dari pemburu perkakas
Atau ilmu yang menambah intelektualitas
Orang-orang yang dulu membagi ilmu dengan berjualan buku
sekarang sudah lenyap dari stasiun ini, untuk ketertiban katanya mereka
dilenyapkan. Memang ada beberapa yang pindah ke belakang, tetapi denyut-denyut
mencari ilmu di stasiun tempat berlabuh dan lepas landasnya para intelektual
akan menambah semangat mereguk pelajaran bukan?
Ternyata saya hanya warga biasa yang tahu apa-apa tetapi
tidak berani melakukan apa-apa. Mungkin inilah kehidupan sesungguhnya, berubah
dengan cepat.
Wah, kereta sudah datang, saatnya pulang. Semoga nanti ke
depan tempat ini tidak disepikan seperti sekarang, lebih dimanfaatkan oleh
orang-orang yang punya kekuasaan.
Komentar
Posting Komentar