Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita

Alur Perjalanan Seorang Tukang Roti Keliling

Ia baru saja turun dari motor, memesan segelas kopi, kemudian duduk di sebelahku. Dagangannya hampir habis. Beberapa roti masih berjejer di etalase yang nangkring di jok belakang motornya. Memang cukup lezat. Apalagi jika memakannya pada sore hari. Aku dan Ibu kadang beli ketika ingin ngemil dan di rumah sedang tidak ada apa-apa. Ini bukan roti yang biasa dijual di swalayan atau supermarket. Bukan juga roti yang sering memasang iklannya di televisi. Ini roti hasil industri rumahan di kelurahan kami. Banyak terigu dijual murah dari sisa produksi pabrik. Oleh warga, bahan tersebut diolah kembali menjadi roti beraneka rasa yang jadi ciri khas kelurahan kami. Produknya sudah terkenal dari satu kelurahan ke kelurahan lain, bahkan kota lain. Tidak heran jika nama kelurahan kami adalah Kampung Roti.  Ibu bilang, itu berawal dari 30 tahun yang lalu, ketika aku belum lahir. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Kadang ketika memikirkannya aku merasa aneh, kota tempatku tinggal dapat dibilang s...

Pintu Itu Tertutup Setelah Kita Melewati Persimpangan yang Sama

Gambar
Ketika mengetahui bahwa Teater Pagupon membuka pintu selebar-lebarnya bagi mereka yang percaya pada kebebasan berkreasi, saya berikrar: kelak, akan mencoba jadi sutradara di sana. Setelah melewati beberapa etape, kesempatan itu datang. Apa yang dipilih dengan segala pertimbangan ternyata menghasilkan banyak konsekuensi, yang akhirnya tetap berujung pada satu hal: pementasan. Berkali-kali saya jatuh cinta pada berbagai naskah, akhirnya pilihan jatuh pada Pintu Tertutup -nya Sartre. Secara sederhana, Pintu Tertutup berkisah soal jalinan cinta segitiga antara Estelle, Garcin, dan Inez. Akan tetapi, jika melihat naskah tersebut melalui sudut pandang kepengarangan, kita akan melihat bagaimana pemikiran Sartre hadir di sana (saya pernah sedikit membahas ini di sini ). Dalam pada itu, kita tidak boleh melupakan bagaimana eksistensialisme hadir dalam Pintu Tertutup . Bagaimana masing-masing tokoh melakukan apa yang mereka inginkan, tentu dengan mempertanggungjawabkan seg...

Merawat Kemanusiaan Bersama Dedes

Jika memang kerja teater adalah merawat kemanusiaan, Teater Pagupon menyuguhkannya dalam Dedes karya Catur Ari Wibowo (Ketjak) yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, semalam. Pementasan itu sekaligus merayakan produksi Teater Pagupon yang genap mencapai angka 100. Tak tanggung-tanggung, teman-teman dari Teater Pagupon menggandeng Reda Gaudiamo dan Payung Teduh untuk turut menyemarakkan perayaan tersebut. Menarik, mengingat Teater Pagupon sering mengandalkan unsur musik dan lagu dalam berbagai pementasannya. Dedes merupakan adaptasi bebas dari cerita karangan S. H. Mintardja yang berjudul Pelangi di Langit Singasari, begitu katanya. Secara garis besar, Dedes menceritakan tahap awal kehidupan tokoh Ken Dedes, jauh sebelum perseteruan antara Ken Arok dengan Tunggul Ametung – yang kelak melahirkan kerajaan Singasari dan menjadikan Ken Dedes sebagai tokoh agung dengan julukan ‘Ibu Raja-Raja Jawa’. Sebuah keberanian, saya kira, mengingat pengarang drama lainnya lebih memilih meny...

Pengingat

Halo, Bari. Hari ini udah ngetik berapa halaman? Masih segitu-gitu aja, deh, kalo diperhatiin. Gak nambah. Katanya pengen nyenengin Umi? Ngasih kado istimewa pas beliau ulang tahun? Jadi? Apa mau ditunda lagi? Katanya pengen pergi dari kampus secara baik-baik? Lu dateng baik-baik, kan? Ayodong! Bismillahirrahmanirrahim. Katanya mau bikin skripsi? Biar orang-orang gak kecewa sama apa yang udah lu lakuin? Apa mau diubah? Lu mau bikin orang-orang kecewa dengan gak nyelesein skripsi? Barusan typo, ya? Skripsu? Skripsi asu. Jangan kesel-kesel. Kalem. Semua punya alasan, Bari: lu, studi lu, radhit - adek lu, umi, de fiki, amel, kak ghira, kak nadra, kak fadli, faros, de uti jangan lupa. Mereka ada bukan ujug-ujug ada. Mereka tau lu punya urusan dan mereka siap bantu nyelesein urusan lu. Mereka siap ada. Mereka gak akan ngelibatin lu ke urusan yang lain kalo emang urusan lu belum selesai. Mereka seneng, udah hampir dua bulan lu ada di rumah. Percaya deh, Bari. Udah lama kan, lu, gak d...

Dua Puluh Lima

Terinspirasi dari 25 gerai makanan dan minuman di Kantin Sastra Entah sebuah kebetulan atau tidak, aku selalu terikat dengan apapun yang berjumlah dua puluh lima. Begitu juga tulisan ini, sengaja aku tulis karena usiaku genap memasuki angka dua puluh lima. Beberapa bulan sebelum usiaku genap dua puluh lima, aku masih berada jauh dari sini. Jauh. Jauh sekali. Entah takdir apa yang membawaku hingga sanggup terbang ke tempat berbentuk bundar ini, dengan dua puluh lima rak-rak berisi makanan beserta penjaganya yang berbeda-beda. Aku juga selalu ingat bahwa di atas beberapa rak-rak yang berjejer rapi mengelilingi tempat berbentuk bundar ini, terdapat mesin yang kukenal mampu mencabut nyawaku tanpa sedikitpun mengizinkanku untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia sedikitpun, sepatah katapun. Aku bermigrasi bersama kawananku. Berjumlah lima kepala regu, aku adalah salah satunya, dengan masing-masing empat anggota regu. Sampai tulisan ini ditulis, sebenarnya aku tidak ...

Bahu Orang-Orang yang Kalah

Akhirnya kita sampai ke sini lagi, Dik. Setelah beberapa ratus hari kita asik sendiri mencoba menemukan, akhirnya kita selesai mencari dan kembali ke sini lagi, Dik. Kita pernah berbagi cerita bukan? Izinkan saudaramu ini bercerita lagi: berbagi. Dunia ini makin panas, makin rumit. Bukan karena umur bumi sudah begitu purba, bukan pula manusia yang semakin banyak berkelana. Dunia ini, setelah saudaramu mencoba menemukan, mencari kesana kemari, semakin panas. Pohon-pohon di sekitar kukusan tetap hidup, sayangnya hanya hidup. Mereka seperti lupa bagaimana perlunya meneduhkan. Sungai-sungai di pinggiran jalan Beji juga begitu. Tetap mengalir, tetapi hanya sekadar, tidak lagi merotasi ekosistem. Bangunan-bangunan semakin dibangun begitu megah menjulang. Untuk kepentingan orang-orang, katanya. Tetapi nyatanya, orang-orang merasa kepentingan mereka masih belum diakomodasi. Akomodasi? Istilah apa itu. Seperti bagian dari kumpulan orang yang menamakan diri mereka kepanitiaan, ya. Lucu ...

Sebrang Kantin

Siang itu di pelataran kantin kampus sekumpulan anak muda saling mengumpat, di antara umpatan-umpatan itu terdapat bumbu-bumbu tawa yang dosisnya melebihi kata seberapa. Entah komposisi apa yang mereka buat untuk membangun dialog dalam perkumpulan tersebut. Sementara itu, dua petugas kebersihan asik beristirahat di bawah pohon rindang. Sesekali mereka ikut tertawa memeratikan kelakuan para anak muda pencari ilmu di laboratorium pengetahuan ini, mereka ikut tertawa di tengah umpatan-umpatan anak-anak muda di seberang meraka. Kemudian seseorang dari petugas kebersihan itu berkata, "Tahukah kau, bahwa ada sebagaian kecil ruh Tuhan dalam diri kita?" Petugas kebersihan yang satu lagi hanya diam. Sadar bahwa lawan bicaranya hanya diam, petugas yang tadi berbicara melanjutkan perkataannya, .... ketika diri kita - manusia - mengumpat apapun yang ingin diumpatnya, maka Tuhan telah mengumpat apapun yang diciptakannya... .... Demikian pula ketika manusia mengumpat Tuhannya. S...

Pulang

Kemarin saya baru pulang pukul 23:00. Setibanya di rumah, Ibu dan Rhadit masih terjaga. Ibu sedang mengoreksi tugas murid-muridnya dan Rhadit sedang bercengkrama dengan kucing barunya. Saat itu, Ibu bercerita: "Adikmu Amelia kamis nanti akan diantarkan ke pondok pesantren. Dia memilih belajar di pesantren ketimbang di sekolahnya saat ini." "Tetapi, Bu, bukankah Amelia masih duduk di kelas 4 SD? Bisakah ia mandiri di pondok nantinya?" Begitu tanya saya. "Nak, Adikmu telah memilih. Bukankah beberapa hari yang lalu kamu pun sempat dibuat begitu khawatir karena pergaulannya?" *** Tidak banyak yang saya utarakan setelah mendengar penjelasan dari Ibu. Sulit mengungkapkannya. Yang pasti, di antara spasi pelupuk matanya, Ibu begitu khawatir dengan keadaan Amelia. Pemahaman pun hadir dalam pikiran saya: Kehadiran diri ini kurang begitu terasa untuk menggantikan peran ayah yang sudah tiada. Seketika di memori teringat kampus, teman-teman, dan tanggu...

Sebelum Pagi Terulang Kembali: Korupsi, Sastra, dan Film

Satu bulan ke belakang, lembaga pemberantasan korupsi di negeri ini sedang mengalami pergolakan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Komisaris Jendral Budi Gunawan sebagai tersangka berdasarkan sejumlah alat bukti, diantaranya merupakan dokumen Laporan Hasil Keuangan (LHA) yang ditelusuri oleh Pusat Pelaporan dan Transaksi Analisis Keuangan (PPATK). Alih-alih menguak beberapa permasalahan korupsi di Indonesia, hal tersebut menjadi bumerang tersendiri bagi KPK. Pasca ditetapkannya Budi Gunawan sebagai tersangka oleh KPK, Wakil Ketua KPK, Bambang Widjoyanto ditangkap oleh Badan Resort Kriminal Polri. Beberapa lama setelah itu, Ketua Umum KPK, Abraham Samad juga ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Mengenai hal ini, penulis bertanya-tanya: ‘Sebenarnya, ada masalah apa dengan lembaga penegak hukum di negeri ini?’ Rasa kepercayaan masyarakat seakan-akan sedang diuji oleh polemik KPK dan Polri, tidak terkecuali mahasiswa. Sebagai elemen masyarakat yang dianuger...

Perempuan di Mata Ibu

Malam itu hampir pagi, Ibuku masih terjaga, demikian pula aku. "Ibu, bagaimana jika aku menyukai seorang perempuan? Apakah Ibu ikhlas jika nanti baktiku jadi berkurang?" Begitu tanyaku, saat Ibu sedang asyik menulis di buku. Ibu berhenti menulis, suasana tetiba penuh pertanyaan. Demikian pula malam, gelapnya memberikan pertanyaan pada mereka yang tidak terserang rasa kantuk. Ibu menarik nafas panjang. Aku mulai rebahan di pangkuannya. ".... Kamu tahu warna, nak? Gelapnya malam ini, kemudian cerahnya pagi, dilanjutkan dengan terangnya siang, lalu sendunya petang, dan balik lagi ke gelapnya malam. Kau tahu, nak?" Ibu menarik nafas lagi, sembari memejamkan matanya sejenak. ".... Ketika kamu menyukai seorang perempuan, banyak waktumu tersita karenanya, apalagi jika kamu dan dia, yang entah siapa namanya, saling menyukai. Saat itu warna dari hidupmu akan berkurang sedikit demi sedikit, hidupmu terlalu indah nanti jika dikurangi warnanya, Nak." Ak...

Ibu Para Senja

“Bunda…” Sebilur perih memaksaku mengadukan bagaimana pertandingan tadi siang yang tidak bisa kumenangkan. Kuhampiri Bunda di halaman belakang. Seperti biasa, beliau sedang memberi makan ikan di kolam peninggalan ayah. “Bunda, aku kalah.” Tak tahu berapa banyak ikan yang berenang mengerubuti butiranbutiran empan yang bunda tebarkan. Meskipun setiap hari empan dibuang kesana, air di kolam itu tak pernah menjadi keruh. Demikian pula ikan di dalamnya, tetap berenang berkeliling, belum ada yang tibatiba mati mengambang. Bunda juga tidak pernah bosan meninggalkan sejenak kesibukannya untuk duduk mencemplungkan kakinya sembari menebarkan empan kesukaan para ikan. Aku duduk di samping Bunda, tak ada gerak lanjutan yang lahir dari hal yang kulakukan barusan. Sepasang kakiku tanpa perintah ikut nyemplung ke dalam kolam.  Dan ikan pun ikut berebut mengerbungi sepasang kaki yang baru saja masuk ke wilayah teritorial mereka, seakan memohon untuk ikut dikelitiki sebagaimana se...

Sembilan Belas

Jika bukan janji kepada salah satu temanku, mungkin aku tidak akan menuliskan ini. Kemarin tanggal 21 Agustus, ada yang tahu itu hari apa? Benar! Itu adalah hari kamis. Lalu apa istimewanya? Itu hari kelahiranku yang terulang 19 kali selama aku hidup. Istimewa ya? Tidak mungkin menurut kalian. Tapi menurutku istimewa. Jika tanggal 21 agustus kemarin aku tidak ulang tahun, kawan di kampusku tidak akan belabelain mengetik “selamat ulang tahun, Ahmad” di google speecs tengah malam. Karena perbuatannya itu, google, yang merupakan mesin pencari terkenal kedua sedunia setelah Tuhan ikut mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal, jika kalian tahu, temantemanku di kampus kadang enggan mengungkit siapa sebenarnya diriku karena sifat introvert berlebihan yang aku anut. Atau aku yang terlalu berprasangka buruk kepada mereka? Setidaknya perbuatan mereka saat dini hari kemarin telah menghapus prasangka itu. Teman kadang memang puny acara unik untuk menunjukan bahwa mereka adal...