Alur Perjalanan Seorang Tukang Roti Keliling
Ia baru saja turun dari motor, memesan segelas kopi, kemudian duduk di sebelahku. Dagangannya hampir habis. Beberapa roti masih berjejer di etalase yang nangkring di jok belakang motornya. Memang cukup lezat. Apalagi jika memakannya pada sore hari. Aku dan Ibu kadang beli ketika ingin ngemil dan di rumah sedang tidak ada apa-apa. Ini bukan roti yang biasa dijual di swalayan atau supermarket. Bukan juga roti yang sering memasang iklannya di televisi. Ini roti hasil industri rumahan di kelurahan kami. Banyak terigu dijual murah dari sisa produksi pabrik. Oleh warga, bahan tersebut diolah kembali menjadi roti beraneka rasa yang jadi ciri khas kelurahan kami. Produknya sudah terkenal dari satu kelurahan ke kelurahan lain, bahkan kota lain. Tidak heran jika nama kelurahan kami adalah Kampung Roti. Ibu bilang, itu berawal dari 30 tahun yang lalu, ketika aku belum lahir. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Kadang ketika memikirkannya aku merasa aneh, kota tempatku tinggal dapat dibilang s...