Wiji Thukul dalam Teka-Teki yang Ganjil
Ketika
seni diartikan sebagai suatu hal indah yang diungkapkan, Wiji thukul memberikan
penafisiran berbeda, sebagai seorang penyair ‘pemberontak’, ia mendefinisikan
puisi (yang merupakan bagian dari seni) sebagai sebuah rasa bebas dan aktif.
Bebas dalam artian mampu mengungkapkan dan menyeruakan apa yang dilihat dan
dirasakannya, tidak diam dibungkam orang lain
yang tidak menerima jika hal tersebut (apa yang dilihat dan dirasakan)
diungkapkan ke khalayak luas. Sedangkan aktif sendiri, diartikan sebagai mampu
membaca situasi, memberitahu orang lain, berbicara, bergerak, tidak diam.
Penyair bernama asli Wiji widodo ini
lahir di desa kecil di solo pada tanggal 26 agustus 1963, mayoritas penduduknya
berprofesi sebagai tukang becak dan buruh. Anak sulung dari tiga bersaudara ini
lulus pendidikan menengah pertama pada tahun 1979. Kemudian melanjutkan ke sekolah
menengah karawitan Indonesia, sayangnya dalam menempuh pendidikan tersebut Wiji
thukul di drop out. Menulis puisi
sudah dimulai Wiji thukul sejak masih duduk di bangku SD. Selain menulis puisi
Wiji Thukul juga menulis cerpen, esai, dan resensi puisi. Puisinya membangunkan
rakyat kecil untuk tidak menyerah, meski pada akhirnya ia menjadi korban dari
aktifitas yang ia lakukan. Di tahun 1996 Wiji thukul menjadi korban politik
‘asap’ orde baru. Sampai sekarang belum juga diketahui dimana Wiji thukul
berada.
Dalam
kumpulan puisinya yang dibukukan dengan judul “Ketika rakyat pergi”, ada sebuah
puisi yang berjudul “Teka-teki yang ganjil”, di puisi tersebut Wiji thukul
menggambarkan bagaimana angan-angan para buruh, termasuk dirinya, yang hanya
sebatas angan, tidak sesuai dengan realitas.
Wiji thukul yang hidup pada masa
awal orde baru dan dinyatakan hilang di penghujung rezim tersebut berkuasa
merasakan apa yang tidak dirasakan masyarakat sekarang. Bagaimana ketika
orang-orang bergerak, berpendapat, maupun berserikat secara bebas tidak dapat
dirasakan olehnya, buruh tetap buruh, bermain dengan para buruh, berdialog
dengan para buruh, di warung kopi para buruh. Penguasa adalah penguasa,
memperkerjakan para buruh, bermain dalam lingkungan penguasa, berdialog dalam
lingkungan penguasa, di ‘warung kopi’ lingkungan penguasa. Dalam masa orde
baru, yang saat itu tidak dapat diusik, buruh melarat tetap melarat, penguasa
berbicara hebat tetap berbicara hebat.
Atas pengalamannya tersebut Wiji
thukul mencoba ‘bebas dan aktif’. Ia berpuisi pada masanya, memainkan kata
sebebas-bebasnya atas hal-hal yang ia lakukan, kehidupannya yang berada di
lingkungan buruh membuat ia ingin berteriak atas ‘sesuatu’ yang terjadi di
lingkungannya. Sentuhan kehidupan yang ia rasakan membuat puluhan puisinya
begitu hidup dalam menggambarkan hal-hal yang dirasakannya: kebebasan yang
dikekang, mulut yang dibungkam, perasaan yang tidak enak sebagai rakyat yang
ditindas, teror yang mengahantui ketika meneriakan kebenaran. Hal-hal tersebut
membuat orang-orang yang membaca puisinya di masa sekarang bersyukur tidak
mengalami hal-hal tersebut dalam kehidupannya. Puisi-puisnya mendorong
orang-orang untuk lebih memanknai kebebasan sebagai suatu hal besar dan sakral
yang patut disyukuri. Suatu hal beda yang tidak terjadi di zaman ketika Wiji
thukul hidup dan bermain dengan kata-kata, rezim orde baru, dimana berpuisi pun
taruhannya adalah nyawa.
Panggung politik orde baru yang
hanya diisi tiga partai besar membuat seorang Wiji thukul membuat kesimpulan
bahwa partai-partai tersebut hanyalah memanfaatkan suaranya beserta
teman-temannya, para buruh. Meskipun wakil-wakil dalam partai tersebut pada
akhirnya memiliki stigma sebagai ‘wakil rakyat’. Mereka hanya berperan
menjalankan peran pengguna stigma itu sendiri, hanya sekedar wakil, tidak
memperdulikan rakyat kecil, sibuk dengan perutnya masing-masing
Rezim
orde baru yang berkuasa lebih dari 30 tahun lamanya menyimpan banyak
kontroversi dan sejarah yang dilupakan. rezim tersebut membuat orang-orang lupa
bagaimana hal besar tidak dituliskan dalam catatan sejarah, pembantaian
orang-orang yang dianggap menganut komunis di awal rezim tersebut berkuasa
misalnya. Sekarang, sedikit demi sedikit hal-hal yang tidak dituliskan dalam
sejarah itu mulai terungkap, Soeharto selaku presiden rezim orde baru dianggap
telah memerintahkan membunuh hampir satu juta orang yang dituduh menganut
komunis. Hal tersebut, dalam anggapan orang-orang sekarang, dianggap sebagai
‘pembersihan’ orang-orang yang tidak menerima apa yang dilakukan rezim orde
baru, sekaligus penanaman pilar agar rezim tersebut dapat bertahan lama. Atas
kejadian tersebut orde baru, yang dipimpin Soeharto, menjadi memiliki stigma
yang diberikan orang-orang sebagai penguasa yang tegas, berani sekaligus tiran.
Siapa yang berani melawan akan hilang dan dilupakan.
Alhasil, rezim orde baru berhasil ongkang-ongkang kaki dalam memerintah
dan mengurus negeri yang seharusnya gemah ripah loh jinawi ini. Selama lebih dari
tiga dekade, orde baru melakukan hal yang menurutnya perlu dilakukan untuk
membangun ibu pertiwi, modal asing diizinkan masuk, kekayaan-kekayaan alam
republik ini dikeruk dan diangkut ke negara-negara yang memiliki uang untuk
menanam modal di Indonesia, perusahaan-perusahaan asing mulai banyak berdiri
‘mencuri’ apa yang seharusnya menjadi milik bangsa ini.
Paham liberal dan kapitalisme yang
dianut rezim ini membuat masyarakat Indonesia menjadi tidak berkembang.
Pendidikan memang ditekankan, akan tetapi pembangunan lebih di nomor satukan.
Segala cara dilakukan agar tujuan pembangunan tercapai, bukan hanya pembangunan
ibu pertiwi, tetapi juga pembangunan diri sendiri (Rezim orde baru). Praktek
korupsi, kolusi, dan nepotisme mulai mewabah. Penyakit yang pada masa orde lama
diusahakan tidak tumbuh, pada masa orde baru menjadi berkembang biak sebagai
sebuah virus yang tidak dapat ditemukan penangkalnya. Orang-orang menjadi
kecanduan terkena penyakit ini, tidak hanya dalam tubuh pemerintahan,
orang-orang kalangan bawah juga ikut-ikutan.
Satu hal yang memalukan sekaligus
menyakitkan yang diwariskan rezim orde baru untuk masa sekarang: korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Sebuah penyakit yang menjangkit tubuh bangsa ini. sampai
sekarang sulit ditemukan obatnya. Yang kaya menjadi semakin kaya, yang miskin
juga demikian, menjadi semakin miskin.
Kebobrokan pemerintahan orde baru,
terbungkamnya mulut rakyat, dan yang kaya semakin kaya begitu juga yang miskin
semakin miskin bisa dikaitkan dengan puisi karya Wiji thukul yang berjudul
“Teka-teki yang ganjil” dari sudut pandang situasi juga amanat yang
disampaikan. Secara tidak langsung Wiji tukhul ingin menceritakan bagaimana
situasi yang saat itu terjadi, saat dimana buruh-buruh mulai mulai ‘gerah’ atas
kebobrokan sistem orde baru yang berkuasa, ‘gerah’nya itu hanya sekedar ‘gerah’
yang sulit diubah, baik itu melalui ucapan maupun perbuatan. Jika berani
bertindak, petrus siap menunggu untuk
bisa menghabisi di malam hari, jika berani berkata dan memprovokasi akan dibawa
ke pengadilan dan divonis penjara karena undang-undang ‘tidak jelas’ mengancam
keamanan Negara.
Buruh yang hanya bisa bermimpi
membeli barang untuk kebutuhan sehari-harinya juga bisa dikaitkan dengan puisi
berjudul “Teka-teki ganjil” ini. harga kebutuhan pokok sehari-hari yang
melambung tinggi begitu memberatkan buruh, upah minimum yang tidak sesuai
dengan jam kerja yang wiji thukul katakan, hampir delapan jam membuat
buruh-buruh tersebut hanya meratapi nasibnya, berangan-angan Cuma sekedar
berangan-angan, tanpa tahu bagaimana menggapai angan tersebut. Masalah-masalah
pemberian rezim orde baru yang mereka hadapi membuat mereka lupa bahwa
sebenarnya mereka juga adalah manusia merdeka yang berhak dan bebas melakukan
apapun yang ingin mereka lakukan.
Sebuah karya secara tidak langsung
menggambarkan bagaimana kehidupan si pembuat karya. Begitu pula dengan puisi berjudul
“Teka-teki yang ganjil” karya Wiji thukul ini. Kehidupannya sebagai anak
seorang tukang becak yang bekerja sebagai
tukang pelitur dan beristri seorang tukang jahit juga bermertua tukang
rongsokan, lingkungannya pun diisi oleh orang-orang melarat. Bagaimana keadaan
kehidupan seorang Wiji tukul sebagai kaum proletar
yang ingin menceritakan kepada pembacanya bahwa hal tersebut pernah terjadi
di Indonesia, rakyat yang merasa ‘dibungkam’ penguasa yang tiran.
Puisi yang dibuat oleh seorang Wiji
thukul memiliki ciri khas seperti cerita yang mudah ditebak. Bagi sebagian
orang memang membosankan, akan tetapi itulah Wiji thukul, puisi-puisnya
menceritakan kehidupan dirinya sendiri, puisinya membela kehidupannya sekaligus
kehidupan rakyat kecil lainnya, kata-katanya merupakan jeritan dari hati
nuraninya sebagai rakyat biasa.
Membaca puisi Wiji thukul adalah
membaca biografi kehidupan Wiji tukul itu sendiri. Puisinya menceritakan nasib
jutaan rakyat Indonesia yang dimiskinkan oleh proses pembangunan yang sangat
terlalu menguntungkan kaum elitnya. “Teka-teki yang ganjil” membuat masyarakat
sadar dan terbuka matanya bahwa Indonesia masih dalam keadaan prihatin setelah lebih
dari 6 dekade kemerdekaannya.
Puisi-puisinya yang lain seperti Satu mimpi satu barisan, untuk D, Di tanah
negeri ini milikmu hanya tanah air, Sukmaku merdeka, Kota ini milik mereka membuat
orang-orang yang membacanya sadar untuk berbuat sesuat, tidak hanya diam
menonton para tiran yang bersandiwara. Keadaan yang salah harus dibenarkan,
jangan takut untuk menyuarakan kebenaran meski itu dalam bentuk puisi.
Wiji thukul merupakan penyair yang
menuliskan puisi perlawanan yang begitu mendalam. Karya-karyanya telah menjadi
roh bagi kebangkitan jiwa-jiwa yang mencoba kembali menemukan jati dirinya.
Jati diri untuk melawan sebuah kekuatan bernama rezim otoriter. Puisinya telah
menyalakan api dalam sumbu-sumbu perlawanan. Hanya ada satu kata: Lawan!
Teka-teki yang ganjil
Pada malam itu kami berkumpul dan
berbicara
Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar
Masing-masing berbicara tentang keinginannya
yang sederhana dan masuk akal
Dari mulut kami tidak keluar hal-hal yang besar
Masing-masing berbicara tentang keinginannya
yang sederhana dan masuk akal
Ada yang sudah lama sekali ingin
bikin dapur
di rumah kontrakannya
Dan itu mengingatkan yang lain
bahwa mereka juga belum punya panci, kompor,
gelas minum dan wajan penggorengan
Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah
ingin membeli barang-barang itu
Tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur
oleh keletihan kami
Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
di rumah kontrakannya
Dan itu mengingatkan yang lain
bahwa mereka juga belum punya panci, kompor,
gelas minum dan wajan penggorengan
Mereka jadi ingat bahwa mereka pernah
ingin membeli barang-barang itu
Tetapi keinginan itu dengan cepat terkubur
oleh keletihan kami
Dan upah kami dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
Ternyata banyak diantara kami yang
masih susah
menikmati the hangat
Karena kami masih pusing bagaimana mengatur
letak tempat tidur dan menggantung pakaian
menikmati the hangat
Karena kami masih pusing bagaimana mengatur
letak tempat tidur dan menggantung pakaian
Ada yang sudah lama ingin mempunyai
kamar mandi sendiri
Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen
dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun
Dari situ pembicaraan meloncat ke soal harga semen
dan juga cat tembok yang harganya tak pernah turun
Kami juga berbicara tentang
kampanye pemilihan umum
yang sudah berlalu
Tiga partai politik yang ada kami simpulkan
Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh
Mereka hanya memanfaatkan suara kami
demi kedudukan mereka
yang sudah berlalu
Tiga partai politik yang ada kami simpulkan
Tak ada hubungannya sama sekali dengan kami: buruh
Mereka hanya memanfaatkan suara kami
demi kedudukan mereka
Kami tertawa-tawa karena menyadari
Bertahun-tahun kami dikibuli
dan diperlakukan seperti kerbau
Bertahun-tahun kami dikibuli
dan diperlakukan seperti kerbau
Akhirnya kami bertanya
Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekaleng cat
padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam
Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh
untuk menyekolahkan anak-anaknya
Padahal tiap hari mereka menghasilkan
berton-ton barang
Mengapa sedemikian sulitnya buruh membeli sekaleng cat
padahal tiap hari ia bekerja tak kurang dari 8 jam
Mengapa sedemikian sulitnya bagi buruh
untuk menyekolahkan anak-anaknya
Padahal tiap hari mereka menghasilkan
berton-ton barang
Lalu salah seorang diantara kami
berdiri
Memandang kami satu persatu kemudian bertanya:
‘Adakah barang-barang yang kalian pakai
yang tidak dibikin oleh buruh?’
Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati
barang-barang yang ada di sekitar kami:
neon, televisi, radio, baju, buku…
Memandang kami satu persatu kemudian bertanya:
‘Adakah barang-barang yang kalian pakai
yang tidak dibikin oleh buruh?’
Pertanyaan itu mendorong kami untuk mengamati
barang-barang yang ada di sekitar kami:
neon, televisi, radio, baju, buku…
Sejak itu kami selalu merasa
seperti
sedang menghadapi teka-teki yang ganjil
Dan teka-teki itu selalu muncul
ketika kami berbicara tentang panic-kompor-
gelas minum-wajan penggoreng
Juga disaat kami menghitung upah kami
yang dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
sedang menghadapi teka-teki yang ganjil
Dan teka-teki itu selalu muncul
ketika kami berbicara tentang panic-kompor-
gelas minum-wajan penggoreng
Juga disaat kami menghitung upah kami
yang dalam waktu singkat telah berubah
menjadi odol-shampo-sewa rumah
dan bon-bon di warung yang harus kami lunasi
Kami selalu heran dan
bertanya-tanya
kekuatan apakah yang telah menghisap
tenaga dan hasil kerja kami?
kekuatan apakah yang telah menghisap
tenaga dan hasil kerja kami?
Karya: Wiji thukul, Solo, September
1993
Komentar
Posting Komentar