Bahu Orang-Orang yang Kalah

Akhirnya kita sampai ke sini lagi, Dik.

Setelah beberapa ratus hari kita asik sendiri mencoba menemukan, akhirnya kita selesai mencari dan kembali ke sini lagi, Dik.

Kita pernah berbagi cerita bukan? Izinkan saudaramu ini bercerita lagi: berbagi.

Dunia ini makin panas, makin rumit. Bukan karena umur bumi sudah begitu purba, bukan pula manusia yang semakin banyak berkelana. Dunia ini, setelah saudaramu mencoba menemukan, mencari kesana kemari, semakin panas. Pohon-pohon di sekitar kukusan tetap hidup, sayangnya hanya hidup. Mereka seperti lupa bagaimana perlunya meneduhkan. Sungai-sungai di pinggiran jalan Beji juga begitu. Tetap mengalir, tetapi hanya sekadar, tidak lagi merotasi ekosistem.

Bangunan-bangunan semakin dibangun begitu megah menjulang. Untuk kepentingan orang-orang, katanya. Tetapi nyatanya, orang-orang merasa kepentingan mereka masih belum diakomodasi. Akomodasi? Istilah apa itu. Seperti bagian dari kumpulan orang yang menamakan diri mereka kepanitiaan, ya. Lucu sekali dunia yang makin panas ini.

Seperti yang kita tahu, Dik. Orang-orang lebih menegapkan bahunya jika keinginan, atau mungkin ya... kepentingan, mereka dipenuhi. Tetapi ini: tidak.

Bahu orang-orang tidak lagi tegap. Si Rangga tidak lagi bernyanyi meretaskan kelelahan. Bahunya turun. Orang-orang yang mendengarkan pun, jadinya, ikut turun bagian tubuh di bawah leher itu.

Bu Sumini yang dulu pernah kita menjadi langganannya di warung makan yang sudah ia rawat puluhan tahun, sekarang tersenyum kecil, tanpa sedikitpun pernah tertawa.

Tetapi, Dik. Saudaramu ini, syukurnya, tetap bertemu orang-orang yang masih mau melatih bahunya untuk tetap tegap. Meyakini dirinya bahwa mereka adalah manusia. Pernah saudaramu ini, bertemu dengan seorang di sebuah kedai kopi. Dengan semangat, orang itu meminta bantuan kepada saudaramu ini, bahwa ia tidak ingin bahu teman-temannya menjadi loyo karena tidak tahu sebenarnya apa yang mereka lakukan.

Dan saudaramu ini, Dik. Mencoba membantu orang itu.

Pernah juga saudaramu ini, Dik, berkenalan dengan seseorang di persimpangan gedung di Kukusan. Orang itu, meski bahunya dapat dikatakan hampir turun, terkagum-kagum dengan bahu yang pernah kita bangun bersama milik saudaramu ini, Dik. Ia tidak bertanya panjang lebar memang, tetapi bahasa tubuhnya mengatakan banyak hal yang ingin ia utarakan. Hingga pada akhirnya, orang itu mencoba belajar menegapkan bahunya selepas bertemu dengan saudaramu ini, Dik.

Di lain tempat, saudaramu ini pernah berkomunikasi menggunakan fitur teknologi dengan seseorang yang belum pernah sekalipun ia ajak bicara. Dari perkataan yang dituliskan orang itu, kau pasti setuju, bahwa bahu yang dimiliknya senantiasa terjaga untuk tegap.

Dari tiga orang yang saudaramu ceritakan ini, Dik. Kita akan semakin tahu keadaan dan situasi kejiwaan yang sedang dirasakan oleh seorang manusia, melalui bahunya. Mereka yang kalah, bahunya akan turun. Mereka tetap bernafas memang, sayangnya nafasnya itu tidak menghidupkan ruh mereka, jiwa mereka. Jangankan untuk memiliki ruh yang hidup, atau jiwa yang hidup. Mengangkat bahu untuk tetap hidup pun, mereka tidak mau.

Doaku malam ini, Dik. Semoga sampai kubur kita berdampingan nanti, bahu ini akan tetap tegap tanpa sedikitpun keinginan untuk menurunkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang

Memang Demikian Harusnya

20220102