Perempuan di Mata Ibu

Malam itu hampir pagi, Ibuku masih terjaga, demikian pula aku.

"Ibu, bagaimana jika aku menyukai seorang perempuan? Apakah Ibu ikhlas jika nanti baktiku jadi berkurang?" Begitu tanyaku, saat Ibu sedang asyik menulis di buku.

Ibu berhenti menulis, suasana tetiba penuh pertanyaan. Demikian pula malam, gelapnya memberikan pertanyaan pada mereka yang tidak terserang rasa kantuk.

Ibu menarik nafas panjang. Aku mulai rebahan di pangkuannya.

".... Kamu tahu warna, nak? Gelapnya malam ini, kemudian cerahnya pagi, dilanjutkan dengan terangnya siang, lalu sendunya petang, dan balik lagi ke gelapnya malam. Kau tahu, nak?"

Ibu menarik nafas lagi, sembari memejamkan matanya sejenak.

".... Ketika kamu menyukai seorang perempuan, banyak waktumu tersita karenanya, apalagi jika kamu dan dia, yang entah siapa namanya, saling menyukai. Saat itu warna dari hidupmu akan berkurang sedikit demi sedikit, hidupmu terlalu indah nanti jika dikurangi warnanya, Nak."

Aku mencerna dengan sangat semua yang ibu utarakan. Dan, ibu, masih sedang berpikir hendak memberikan tuah kepadaku ini, anaknya yang hampir berumur kepala dua.


"Kamu tahu, nak? Saat Ayahmu mulai menyukai Ibu, Ia begitu berani mengorbankan waktunya untuk Ibu, warna dalam hidupnya juga jadi berkurang, gara-gara Ia menyukai Ibu...

.... Jika demikian adanya kamu menyukai perempuan, nikmatilah, itu wajar. Pinta Ibu cuma satu, janganlah dulu kamu dan dia, yang entah siapa namanya, berhubungan. Kamu masih muda, Ibu tidak ingin melihat masa mudamu hanya sedikit warnanya."

Setelah Ibu mengucapkan itu semua, aku terlelap dengan nyenyaknya, di pangkuan Ibu.





Jakarta, 11 Oktober 2014


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang

Memang Demikian Harusnya

20220102