Dua Puluh Lima
Terinspirasi dari 25
gerai makanan dan minuman di Kantin Sastra
Entah sebuah kebetulan atau tidak, aku selalu terikat dengan
apapun yang berjumlah dua puluh lima. Begitu juga tulisan ini, sengaja aku
tulis karena usiaku genap memasuki angka dua puluh lima.
Beberapa bulan sebelum usiaku genap dua puluh lima, aku
masih berada jauh dari sini. Jauh. Jauh sekali. Entah takdir apa yang membawaku
hingga sanggup terbang ke tempat berbentuk bundar ini, dengan dua puluh lima
rak-rak berisi makanan beserta penjaganya yang berbeda-beda. Aku juga selalu
ingat bahwa di atas beberapa rak-rak yang berjejer rapi mengelilingi tempat
berbentuk bundar ini, terdapat mesin yang kukenal mampu mencabut nyawaku tanpa
sedikitpun mengizinkanku untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia
sedikitpun, sepatah katapun.
Aku bermigrasi bersama kawananku. Berjumlah lima kepala
regu, aku adalah salah satunya, dengan masing-masing empat anggota regu. Sampai
tulisan ini ditulis, sebenarnya aku tidak tahu regu itu artinya apa. Mereka
yang berada di tempatku dulu, sebelum bermigrasi mengatakan, lebih baik
meninggalkan tempat tinggal dengan berkelompok, tidak sendiri-sendiri. Dan
setiap kelompok disebutnya satu regu. Jadilah kami seperti ini.
Tidak pernah sedikitpun aku lupa untuk bersyukur pindah ke
tempat baru yang sungguh sangat damai. Setiap hari, aku tidak pernah mencium
bau hangus terbakar. Tidak seperti ditempat tinggalku dulu, bukan hanya bau
hangus terbakar yang ada, tetapi juga api berkobar-kobar.
Di antara tidak adanya bau hangus terbakar, tempat berbentuk
bundar ini selalu ramai oleh manusia-manusia yang duduk beregu di meja-meja
yang sudah tersedia. Kadang mereka berbicara begitu serius hingga urat-urat di
wajahnya berlomba untuk menunjukan eksistensinya. Kadang juga mereka
tertawa-tawa tanpa pernah aku tahu sebabnya. Kadang juga ada dari mereka yang
memisahkan diri untuk merenung entah memikirkan apa. Dan yang paling aku
syukuri dari mereka adalah, mereka selalu makan. Aku selalu mendapat bagian. Tanpa
sedikitpun mereka merasa terganggu berbagi makanan denganku.
Siapapun yang membaca tulisan ini mesti tahu, bahwa di
tempatku dulu sangat sulit untuk mendapat makanan. Jangankan untuk berbagi,
manusia-manusia di tempat tinggalku dulu selalu berseteru. Mereka berkumpul
bukan untuk berbagi, tetapi saling berbicara dengan nada penuh benci. Tidak
jarang mereka saling menghabisi. Menghabisi suara sampai menghabisi nyawa.
Pernah aku menyaksikan dua puluh lima kepala keluarga
dihabisi beserta seluruh keluarganya. Awalnya, mereka didatangi beramai-ramai
oleh manusia yang entah asalnya dari mana. Dari raut wajahnya, aku tahu bahwa
beberapa dari dua puluh lima kepala keluarga itu ingin bicara. Tetapi mereka
yang datang beramai-ramai itu tidak sedikitpun mengindahkan. Setelah dikumpulkan,
diberondongnya mereka dengan mesin yang suaranya berdesing-desing. Entah apa
namanya, sampai matipun aku tidak mau tahu.
Mulanya aku gembira karena akan mendapat makanan yang tidak
terhingga. Akan tetapi, setelah dihabisi, mereka menyusun sebuah gunung dari
dua puluh lima kepala keluarga beserta seluruh keluarganya. Gunungan mayat
manusia yang sampai saat ini aku masih bergidik mengingatnya. Belum selesai
sampai di situ, mereka menuangkan minyak tanah, yang aku tahu baunya, tanpa
ragu. Dilemparkannya sepercik api, dan jadilah: Kobaran api dengan bahan bakar
manusia yang membuat lupa segala kelezatan makanan. Jangankan kelezatan
makanan, nafsu makan pun hilang sudah!
Untuk itulah aku tidak pernah lupa untuk bersyukur pindah ke
tempat berbentuk bundar ini hingga malam tadi. Ya. Hingga malam tadi.
Salah seorang dari mereka terpaku menyaksikan gambar dari
kotak kaca setelah bosan tertawa-tawa. Gambar dari kotak kaca tersebut
memberitakan kebiadaban yang menghilangkan nafsu makan di sebuah tempat yang
aku tahu tempat itu adalah tempat tinggalku dulu. Ia terpaku begitu lama.
Lumayan lama. Aku sendiri sudah enggan menyaksikannya. Hih!
Setelah terpaku begitu lama, ia mengambil makanan dari salah
satu rak yang mengelilingi tempat berbentuk bundar ini. Duduk kembali, kemudian
berdoa. Sebelum memakan makanan tersebut, ia berbicara lumayan panjang lebar
dengan manusia di sebelahnya. Aku tidak begitu tertarik untuk menyimaknya.
Hingga ia mengatakan sebuah kalimat yang aku masih ingat sampai menulis tulisan
ini, “mesin di atas kios manfaat juga ternyata, laletnya udah gak sebanyak
dulu.”
Baru aku sadari bangsaku pernah dibantai di tempat ini.
(ABM)
Komentar
Posting Komentar