Sebelum Pagi Terulang Kembali: Korupsi, Sastra, dan Film
Satu bulan ke belakang, lembaga pemberantasan
korupsi di negeri ini sedang mengalami pergolakan. Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) menetapkan Komisaris Jendral Budi Gunawan sebagai tersangka berdasarkan
sejumlah alat bukti, diantaranya merupakan dokumen Laporan Hasil Keuangan (LHA)
yang ditelusuri oleh Pusat Pelaporan dan Transaksi Analisis Keuangan (PPATK).
Alih-alih menguak beberapa permasalahan korupsi di Indonesia, hal tersebut
menjadi bumerang tersendiri bagi KPK. Pasca ditetapkannya Budi Gunawan sebagai
tersangka oleh KPK, Wakil Ketua KPK, Bambang Widjoyanto ditangkap oleh Badan
Resort Kriminal Polri. Beberapa lama setelah itu, Ketua Umum KPK, Abraham Samad
juga ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Mengenai hal ini,
penulis bertanya-tanya: ‘Sebenarnya, ada masalah apa dengan lembaga penegak
hukum di negeri ini?’
Rasa kepercayaan masyarakat seakan-akan sedang diuji
oleh polemik KPK dan Polri, tidak terkecuali mahasiswa. Sebagai elemen
masyarakat yang dianugerahi pengetahuan berlebih, mahasiswa merasa perlu untuk
mendapat informasi sebanyak-banyaknya. Bekerja sama dengan acara Asean Literary Festival, BEM FIB UI mengundang Bambang Widjoyanto,
Okky Madasari, dan Cangkir Kopi Production
untuk menjadi narasumber dalam pemutaran film ‘Sebelum Pagi terulang
Kembali’ dan diskusi dengan tema ‘Sastra dan korupsi’.
Secara garis besar, ‘Sebelum Pagi Terulang Kembali’
menceritakan bagaimana korupsi yang terjadi di pemerintahan. Berawal dari
kolusi dan nepotisme, korupsi berkembang sedemikian gencarnya. Di dalam film
itu juga diceritakan bagaimana pentingnya peran KPK dalam memberantas korupsi.
Mengenai sastra dan korupsi, Okky Madasari
mengemukakan bahwa korupsi yang berada di ranah politik sangat sulit untuk di
selesaikan. Korupsi merupakan sebuah kejahatan kemanusiaan. Mereka yang
melakukan korupsi telah mengganggu hidup hak orang banyak. Polemik korupsi
seakan telah menjadi budaya yang telah mengakar. Sebagai seorang yang
berkecimpung di dunia tulis-menulis, Okky Madasari mengatakan bahwa melalui
tulisan adalah cara saya untuk membantu memberantas korupsi di negeri ini.
Semua dimulai dari diri sendiri.
Bambang Widjoyanto sebagai tokoh yang
menjalani langsung proses pemberantasan korupsi mengatakan, bahwa korupsi merupakan penyakit yang sulit sekali dicari
penawarnya. Kita bisa melihat korupsi dari keadaan Indonesia saat ini, begitu
katanya. Rakyat Indonesia percaya Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau.
Nyatanya, saat ini hanya bersisa 13.000 pulau terdata. Sebagai negara kepulauan
yang tidak tertatata pelabuhannya, Indonesia menjadi negara yang mudah sekali
untuk melakukan penyelundupan. Bambang Widjoyanto menambahkan, sebagai negara
kelautan, Indonesia memiliki palung Banda yang menghasilkan banyak ikan.
Pertanyaannya, sudahkah nelayan Indonesia menikmatinya?
Sebelum mengakhiri pembicaraannya,
Bambang Widjoyanto berpesan kepada mahasiswa yang hadir saat itu, “Dengan segala hiruk pikuk yang ada,
alhamdulillah, kita masih bisa tersenyum dan terus belajar. Belajar di sekolah
terbaik di negeri ini.”
Komentar
Posting Komentar