Postingan

Menangislah

Barangkali, semua itu memang perlu selesai. Tidak perlu lagi ada keluh dan resah yang perlu kamu pikirkan. Biarkan seluruh bagian tubuhmu istirahat. Lepaskanlah semuanya pelan-pelan. Jangan. Jangan buru-buru. Semuanya. Tidak boleh ada yang terlewat. Satu persatu. Sampai semuanya habis. Kalau mau: menangislah. Dan tolong, jika kamu ingin menumpahkannya dipelukanku, kuharap itu semuanya. Tanpa ada sisa. Aku tidak akan tega melihat kamu tersedu jika menangis. Akan tetapi, aku lebih tidak tega jika keluhmu, resahmu, tidak bisa kamu selesaikan. Menangislah. 

Dua Puluh Lima

Terinspirasi dari 25 gerai makanan dan minuman di Kantin Sastra Entah sebuah kebetulan atau tidak, aku selalu terikat dengan apapun yang berjumlah dua puluh lima. Begitu juga tulisan ini, sengaja aku tulis karena usiaku genap memasuki angka dua puluh lima. Beberapa bulan sebelum usiaku genap dua puluh lima, aku masih berada jauh dari sini. Jauh. Jauh sekali. Entah takdir apa yang membawaku hingga sanggup terbang ke tempat berbentuk bundar ini, dengan dua puluh lima rak-rak berisi makanan beserta penjaganya yang berbeda-beda. Aku juga selalu ingat bahwa di atas beberapa rak-rak yang berjejer rapi mengelilingi tempat berbentuk bundar ini, terdapat mesin yang kukenal mampu mencabut nyawaku tanpa sedikitpun mengizinkanku untuk mengucapkan salam perpisahan pada dunia sedikitpun, sepatah katapun. Aku bermigrasi bersama kawananku. Berjumlah lima kepala regu, aku adalah salah satunya, dengan masing-masing empat anggota regu. Sampai tulisan ini ditulis, sebenarnya aku tidak ...

Bahu Orang-Orang yang Kalah

Akhirnya kita sampai ke sini lagi, Dik. Setelah beberapa ratus hari kita asik sendiri mencoba menemukan, akhirnya kita selesai mencari dan kembali ke sini lagi, Dik. Kita pernah berbagi cerita bukan? Izinkan saudaramu ini bercerita lagi: berbagi. Dunia ini makin panas, makin rumit. Bukan karena umur bumi sudah begitu purba, bukan pula manusia yang semakin banyak berkelana. Dunia ini, setelah saudaramu mencoba menemukan, mencari kesana kemari, semakin panas. Pohon-pohon di sekitar kukusan tetap hidup, sayangnya hanya hidup. Mereka seperti lupa bagaimana perlunya meneduhkan. Sungai-sungai di pinggiran jalan Beji juga begitu. Tetap mengalir, tetapi hanya sekadar, tidak lagi merotasi ekosistem. Bangunan-bangunan semakin dibangun begitu megah menjulang. Untuk kepentingan orang-orang, katanya. Tetapi nyatanya, orang-orang merasa kepentingan mereka masih belum diakomodasi. Akomodasi? Istilah apa itu. Seperti bagian dari kumpulan orang yang menamakan diri mereka kepanitiaan, ya. Lucu ...

Pengakuan

Saya laki-laki, dan saya tidak peduli dengan kelaki-lakian itu. Semua manusia sama. Hanya apa yang diyakini yang membedakannya. Entah itu keberanian, pengabdian, kerajinan, keuletan, atau percaya pada Tuhan.

Sebrang Kantin

Siang itu di pelataran kantin kampus sekumpulan anak muda saling mengumpat, di antara umpatan-umpatan itu terdapat bumbu-bumbu tawa yang dosisnya melebihi kata seberapa. Entah komposisi apa yang mereka buat untuk membangun dialog dalam perkumpulan tersebut. Sementara itu, dua petugas kebersihan asik beristirahat di bawah pohon rindang. Sesekali mereka ikut tertawa memeratikan kelakuan para anak muda pencari ilmu di laboratorium pengetahuan ini, mereka ikut tertawa di tengah umpatan-umpatan anak-anak muda di seberang meraka. Kemudian seseorang dari petugas kebersihan itu berkata, "Tahukah kau, bahwa ada sebagaian kecil ruh Tuhan dalam diri kita?" Petugas kebersihan yang satu lagi hanya diam. Sadar bahwa lawan bicaranya hanya diam, petugas yang tadi berbicara melanjutkan perkataannya, .... ketika diri kita - manusia - mengumpat apapun yang ingin diumpatnya, maka Tuhan telah mengumpat apapun yang diciptakannya... .... Demikian pula ketika manusia mengumpat Tuhannya. S...

Please

Stop unaware me, kay?

Ide

Ah! Syukurlah, akhirnya ketemu juga.