Ia baru saja turun dari motor, memesan segelas kopi, kemudian duduk di sebelahku. Dagangannya hampir habis. Beberapa roti masih berjejer di etalase yang nangkring di jok belakang motornya. Memang cukup lezat. Apalagi jika memakannya pada sore hari. Aku dan Ibu kadang beli ketika ingin ngemil dan di rumah sedang tidak ada apa-apa. Ini bukan roti yang biasa dijual di swalayan atau supermarket. Bukan juga roti yang sering memasang iklannya di televisi. Ini roti hasil industri rumahan di kelurahan kami. Banyak terigu dijual murah dari sisa produksi pabrik. Oleh warga, bahan tersebut diolah kembali menjadi roti beraneka rasa yang jadi ciri khas kelurahan kami. Produknya sudah terkenal dari satu kelurahan ke kelurahan lain, bahkan kota lain. Tidak heran jika nama kelurahan kami adalah Kampung Roti. Ibu bilang, itu berawal dari 30 tahun yang lalu, ketika aku belum lahir. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Kadang ketika memikirkannya aku merasa aneh, kota tempatku tinggal dapat dibilang s...
Apakah menyusun kalimat harus dengan perasaan? Tidak tahu. Bilamana kata-kata yang tengah disusun adalah untuk diberikan kepada pembaca yang budiman, boleh jadi jawabannya ialah memang. Segenap daya upaya dikerahkan guna meyusun kalimat menjadi kerangka wacana yang menyampaikan pemikiran, atau berita pemberitahu keadaan, atau juga puisi penyentuh hati. Namun, adakah yang peduli? Tidak tahu. Barangkali, tidak ada. Bilamana kata-kata yang tengah disusun adalah untuk dirimu sendiri, boleh jadi jawabannya ialah harus. Menerka-nerka apa yang ingin ditulis. Mengingat kembali kebohongan, sebelum berupaya membentuknya jadi kalimat pengungkap segala. Secara saksama menduga adakah kejujuran perlu terujar? Dengan resiko luluh lantak kausalitas yang melingkunginya? Tidak tahu. Barangkali, tidak ada. Memang demikian harusnya. Bilamana kata-kata yang tengah disusun adalah untuk kalimat itu sendiri, boleh jadi jawabannya ialah demikian. Tidak menganggap...
Sudah tiga tahun semenjak aku bertemu denganmu. Tidak pernah ada yang berbeda. Entah jika nanti kita sudah sarjana, magister, doktor, profesor, atau almarhum. Akan berubah, tidak seperti ini lagi? Kurasa tidak. Bandung, Agustus 2014
Komentar
Posting Komentar