Postingan

Setahun yang lalu stasiun tidak bisu

Bukan siang yang mengejar petang, bukan orang yang memanen uang. Beberapa kumpulan pedagang di kala siang Berusaha dalam keadaan yang katanya memungkinkan Memperjuangkan sesuatu berlabel kehidupan Dengan senyuman, dengan keikhlasan Siang itu saya menunggu kereta di peron dua, hendak pulang. Sesekali pandangan saya menyapu sekeliling stasiun Universitas Indonesia. Bersih sekali, aktifitas banyak ditemukan, tetapi interaksi sangat kurang, orang-orang sibuk dengan urusan pribadinya, dengan gadgetnya, dengan kekasihnya, dengan pikirannya yang mengawang-ngawang. Dulu, setahun yang lalu di tempat orang-orang yang sekarang berlalu Ada senyuman yang tidak pilu, ada perjuangan yang tidak semu Perjuangan pedagang untuk kelangsungan hidup anak cucu Siang itu saya mengingat bagaimana tahun lalu sesekali pergi ke sini, ke stasiun yang katanya punya kampus UI, kampus perjuangan. Mengelilingi kios-kios pedagang buku bekas, mencari ilmu dari pedagang yang menyambung hidup den...

Hargailah proses

Siang itu mega mendung memayung Batu dan tanah asik bersanding berduaan Batu yang diam membuat tanah tak tahan Diajaknya batu berbincang "Untuk apa kamu berada disini, disampingku?" Batu tetap diam Membatu Kemudian menatap tajam mata tanah tak dijawab pertanyaan tanah Tanah tak menyerah ia kembali berbicara "Kau tahu bagaimana manusia diciptakan? ia bermula dari diriku yang segumpal kemudian berubah menjadi cairan yang ditanam dalam rahim seseorang berjenis kelamin perempuan yang kekuatannya sangat sulit ditandingkan" Tanah kelelahan batu tidak bergeming apalagi menggumam Tanah tetap tidak mau menerima kekalahan mulutnya kembali menggumam "Setelah lahir  dari rahim bernama perempuan Manusia tumbuh dan berkembang menerima banyak pelajaran pengalaman, angka, huruf guru, teman, kesibukan..." Tanah menarik nafas panjang Menunggu batu mengucapkan tanggapan Sedangkan batu tetap diam Tanah tak tahan ia membentak "R...

Wiji Thukul dalam Teka-Teki yang Ganjil

Ketika seni diartikan sebagai suatu hal indah yang diungkapkan, Wiji thukul memberikan penafisiran berbeda, sebagai seorang penyair ‘pemberontak’, ia mendefinisikan puisi (yang merupakan bagian dari seni) sebagai sebuah rasa bebas dan aktif. Bebas dalam artian mampu mengungkapkan dan menyeruakan apa yang dilihat dan dirasakannya, tidak diam dibungkam orang lain  yang tidak menerima jika hal tersebut (apa yang dilihat dan dirasakan) diungkapkan ke khalayak luas. Sedangkan aktif sendiri, diartikan sebagai mampu membaca situasi, memberitahu orang lain, berbicara, bergerak, tidak diam.             Penyair bernama asli Wiji widodo ini lahir di desa kecil di solo pada tanggal 26 agustus 1963, mayoritas penduduknya berprofesi sebagai tukang becak dan buruh. Anak sulung dari tiga bersaudara ini lulus pendidikan menengah pertama pada tahun 1979. Kemudian melanjutkan ke sekolah menengah karawitan Indonesia, sayangnya dalam menempuh p...

Rindu

Aku rindu sungguh rindu Saat mengajakmu menikmati resah Dengan lirihnya kau bernyanyi Menghilangkan penantian yang bosan Menyanyikan nyanyian sakral tentang surga Ya surga itu Semoga kita nanti bisa mengulangi hal-hal indah di sana

Disposisi

Di stasiun Peron tiga Malam itu kita menunggu kereta bergerbong lima Tidak memohon apalagi berharap Di stasiun Peron tiga Kau duduk dikursi lama, denganku berdua saja Tak mengucapkan sepatah kata, Sibuk dengan masing-masing rasa Di stasiun Peron tiga Aku menghisap beberapa mili tar Memandang langit yang masih bersisa warna jingga Di stasiun Peron tiga Bersama kebisuan diantara tanda tanya Mencari jawab diantara orang yang berlalu begitu saja Di stasiun Peron tiga Seperti biasa Aku ingin berdialektika Di stasiun Peron tiga Kau hanya diam memalingkan muka Menatapku tajam seolah berkata "Pergi saja sana" Kenyamanan yang biasanya tercipta, tergilas diantara rel yang memuai Dilangkahkan kaki menuju sebuah sistem yang membuai Membohongi diri pada kenyataan, setelah dibohongi ketidakpastian Untuk balas budi pada tuan dan nyonya Di stasiun Peron tiga Masih disitu menunggu kereta Seorang diri menunggu teman yang mungkin tak kembali

Nasihat Ayah

Bukan engkau yang memanah ketika engkau memanah, tetapi Allah lah yang memanah ( Al - Anfal : 17 ) = bukan engkau yang membuat orang menjadi pandai ketika engkau berusaha mengajarinya, tetapi Allah lah al-'Amin yang telah menganugerahinya pengetahuan / kepandaian. Bukan engkau yang menyembuhkan orang sakit ketika engkau berupaya mengobatinya, tetapi Allah lah Asy-Syafi yang telah menurunkan kepadanya kesumbuhan. Bukan engkau yang membuat penjahat menjadi shaleh ketika engkau menceramahi dan menasehatinya, tetapi Allah lah Al-Hadiy yang telah memberinya hidayah untuk menjadi baik. Bukan engkau pula yang menjadikan dirimu kaya ketika engkau berupaya mengumpulkan harta tetapi Allah lah Al-Razzak yang telah melimpahi dengan rizki-Nya. Bukan engkau...... tetapi Allah, Allah, Allah....

Mozaik Ayah

Ustadz Teladan Itu Meninggalkan Kita Entah apa yang harus dikata. Aku hanya mengirim doa dan sms kepada istrinya bahwa ustadz teladan dan hamba Allah yang sholeh ini telah dipanggil ke sisiNya. Ustadz Maryadi sahabat akrabku itu telah meninggalkan kita semua, khususnya keluarga besar Pesantren Husnayain, Jumat, 5 September 2012 siang tadi. Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu wajalil jannata maswahu. Ya Allah ampunilah dosanya, sayangilah dia, jagalah dia dan ampunilah dia, dan jadikanlah al Jannah sebagai tempat kediamannya. Ustadz Maryadi Mamat Kewang begitu nama lengkapnya. Ia lahir 10 Maret 1962. Asli Betawi dan mempunyai garis keturunan kiyai dari orang tuanya. Bagiku ia adalah salah satu teladan terbaik guru di masa kini. Lebih dari 10 tahun hidupnya ia abdikan untuk mendidik santri-santri nun jauh di sana, di Sukabumi. Di sebuah lereng pegunungan Salak yang dikelilingi kebun teh. Perjalanan ke pesantren Sukabumi itu, bila lancar membutuhkan waktu minimal tiga ...