Kemarin saya baru pulang pukul 23:00. Setibanya di rumah, Ibu dan Rhadit masih terjaga. Ibu sedang mengoreksi tugas murid-muridnya dan Rhadit sedang bercengkrama dengan kucing barunya. Saat itu, Ibu bercerita: "Adikmu Amelia kamis nanti akan diantarkan ke pondok pesantren. Dia memilih belajar di pesantren ketimbang di sekolahnya saat ini." "Tetapi, Bu, bukankah Amelia masih duduk di kelas 4 SD? Bisakah ia mandiri di pondok nantinya?" Begitu tanya saya. "Nak, Adikmu telah memilih. Bukankah beberapa hari yang lalu kamu pun sempat dibuat begitu khawatir karena pergaulannya?" *** Tidak banyak yang saya utarakan setelah mendengar penjelasan dari Ibu. Sulit mengungkapkannya. Yang pasti, di antara spasi pelupuk matanya, Ibu begitu khawatir dengan keadaan Amelia. Pemahaman pun hadir dalam pikiran saya: Kehadiran diri ini kurang begitu terasa untuk menggantikan peran ayah yang sudah tiada. Seketika di memori teringat kampus, teman-teman, dan tanggu...
Apakah menyusun kalimat harus dengan perasaan? Tidak tahu. Bilamana kata-kata yang tengah disusun adalah untuk diberikan kepada pembaca yang budiman, boleh jadi jawabannya ialah memang. Segenap daya upaya dikerahkan guna meyusun kalimat menjadi kerangka wacana yang menyampaikan pemikiran, atau berita pemberitahu keadaan, atau juga puisi penyentuh hati. Namun, adakah yang peduli? Tidak tahu. Barangkali, tidak ada. Bilamana kata-kata yang tengah disusun adalah untuk dirimu sendiri, boleh jadi jawabannya ialah harus. Menerka-nerka apa yang ingin ditulis. Mengingat kembali kebohongan, sebelum berupaya membentuknya jadi kalimat pengungkap segala. Secara saksama menduga adakah kejujuran perlu terujar? Dengan resiko luluh lantak kausalitas yang melingkunginya? Tidak tahu. Barangkali, tidak ada. Memang demikian harusnya. Bilamana kata-kata yang tengah disusun adalah untuk kalimat itu sendiri, boleh jadi jawabannya ialah demikian. Tidak menganggap...
Untuk Ryn Kita tidak pernah tahu kenangan, yang baik maupun yang buruk, dominan muncul di ingatan. Bilamana kosakataku sedang tidak nyaman diterima : kesalahanmu sedang lalu lalang. Jangan paksa dayaku memperbaikinya. Cukuplah ia tidak terpelihara.
Komentar
Posting Komentar