Di stasiun Peron tiga Malam itu kita menunggu kereta bergerbong lima Tidak memohon apalagi berharap Di stasiun Peron tiga Kau duduk dikursi lama, denganku berdua saja Tak mengucapkan sepatah kata, Sibuk dengan masing-masing rasa Di stasiun Peron tiga Aku menghisap beberapa mili tar Memandang langit yang masih bersisa warna jingga Di stasiun Peron tiga Bersama kebisuan diantara tanda tanya Mencari jawab diantara orang yang berlalu begitu saja Di stasiun Peron tiga Seperti biasa Aku ingin berdialektika Di stasiun Peron tiga Kau hanya diam memalingkan muka Menatapku tajam seolah berkata "Pergi saja sana" Kenyamanan yang biasanya tercipta, tergilas diantara rel yang memuai Dilangkahkan kaki menuju sebuah sistem yang membuai Membohongi diri pada kenyataan, setelah dibohongi ketidakpastian Untuk balas budi pada tuan dan nyonya Di stasiun Peron tiga Masih disitu menunggu kereta Seorang diri menunggu teman yang mungkin tak kembali
Barangkali nantinya di sana saya akan merasakan bagaimana bahagianya Bruno Mars ketika melantukan When I See Your Face Barangkali nantinya di sana saya akan merasakan bagaimana bahagianya teman saya ketika bertemu pacarnya di pelataran kelas usai menjalani UAS kuliah Pengkajian Drama Barangkali nantinya di sana saya akan merasakan bagaimana bahagianya teman saya yang satu lagi ketika pulang ke rumah dan diajak berdialog dengan ayahnya Ah, seketika rindu ini begitu melulu begitu merdu begitu ingin bertemu kau; Allah, Muhammad, dan Ayah. Barangkali nantinya di sana saya akan merasakan bagaimana bahagianya ikut melafalkan nyanyian tasbih, takbir, tahlil, dan tahmid bersama ayah di taman firdaus Sesederhana itu keinginan ini. Aamin.
Beberapa saat yang lalu, panggung gelap. Lakon-lakon baru saja menyelesaikan adegannya. Mereka bertanya, mampukah kita tertawa? Setelah banyak hal yang belum dilakukan, dan kami terlalu banyak berangan-angan, mampukah kita tertawa? Seperti itu katanya. Dalam sebuah panggung gelap, beberapa orang memanggil dan bertanya sembari menggigil. Ah, semuanya pasti tahu, panggung hanyalah kesemuan palsu yang di dalamnya ada orang-orang yang berani dan takut. Berani dalam sepi memahami banyak perangai diri. Takut yang disebut selama hidup. Tetapi, panggung selalu memiliki pesona tersendiri, bukan? Jangan biarkan panggung kosong...
Komentar
Posting Komentar