A Letter from Heaven
Bismillahirraahmanirrahim
Istriku dan Anak-anakku yang sangat kukasihi.
Telah banyak saudara dan teman Abi yang berpulang ke rahmatullah. Abi sendiri rasanya tinggal menunggu giliran. Keinginan Abi, tentunya, Allah memberi umur panjang kepada Abi, sehingga Abi bisa menghantarkan kalian kepada kemandirian sikap, kepada saat-saat dimana kalian bisa dikatakan sudah dewasa dalam arti yang seluas-luasnya.
Tetapi…
Kita tidak pernah tahu berapa jatah umur yang Allah berikan kepada masing-masing dari kita, kepada Abi, kepada Ummi, dan kepada yang lain. Yang pasti saat ini umur Abi sudah hampir setengah abad (49 tahun). Dibandingkan dengan umur Nabi, hanya berbeda 14 tahun. Itulah sisa umur yang masih ada jika memang begitu yang Allah takdirkan. Kemungkinan kurang atau lebih dari umur Nabi tetap ada. Hanya saja, lagi-lagi, kita tidak pernah tahu berapa yang tersisa. Yang tahu hanya Dia Yang menjadikan kita ada dari ketiadaan untuk kembali kepada ketiadaan lagi.
Sementara…
Beban tanggung jawab hidup, jelas belum tuntas Abi tunaikan. Bahkan masih sangat banyak, dan saat ini sedang datang bertubi-tubi. Kalau Allah memanggil Abi untuk pulang ke haribaan-Nya, Abi ingin washiyatkan hal-hal di bawah ini.
- Supaya disampaikan lagi kepada Baba H. Uyok dan Ci Didin, walaupun abi sudah bicara kepada mereka, agar Abi dibebaskan dari hutang yang belum terbayar kepada mereka. Termasuk hutang kepada Mama Nunun.
- Hutang Abi kepada pesantren sebanyak barangkali Rp 3 juta (karena catatannya yang Rp 2 Juta ditulis Ust Bishri Nashrullah dan sudah tidak bertugas lagi), dilunasi dengan saham Abi yang di BMT Husnayain dan di Alfa Mart Husnayain, kecuali kalau pimpinan Pesantren berkenan dan bertanggungjawab membebaskannya.
- (a) Buku-buku pinjaman dari perpustakaan pesantren Husnayain supaya dikembalikan; (b) Buku-buku Abi, terserah kepada kalian, apakah kalian ingin miliki atau akan disumbangkan ke pesantren atau untuk perpustakaan keluarga di Mushalla Raudatul Jannah; (c) Buku-buku yang tidak jelas kepemilikannya supaya disumbangkan ke pesantren, dihargai dengan uang, dan uangnya diinfakkan dengan niat pahalanya untuk yang punya buku.
Anak-anakku...
- Rukun-rukunlah kalian dalam hidup, saling bantu dalam menyelesaikan masalah/urusan hidup. Saling tenggang rasa dalam senang dan susah. Kalau bermusyawarah jangan mencari menang, tetapi mencari benar dan mencari yang lebih bijaksana.
- Nadra (Mutiara Ceria Abi), Ghira (Permata Indah Abi), Ahmad (Berlian Terpuji Abi) dan Fieki (Intan Kasih Sayang Abi), betapa pun mungkin sulit, berusahalah terus untuk belajar, minimal selesai S1. Yang sudah selesai duluan bantu yang belum selesai.
- Bantu adik-adik kalian; Mutia, Amel dan Radit. Jangan dikasari. Jangan dikecilkan hatinya dengan ungkapan-ungkapan dan hinaan yang merendahkan. Bimbing, arahkan, temani, sayangi.
- Junjung tinggi bakti kepada ummi, walaupun mungkin pendidikan kalian lebih tinggi darinya, jangan pernah sakiti hatinya walaupun mungkin ungkapannya pernah mengganjal di hati, minta ridha dan doa restunya dalam setiap langkah kehidupan. Ingat orang tua/Ibu itu bertuah, bisa menjadi jalan datangnya berkah atau laknat, sesuai dengan bagaimana prilaku kita kepadanya.
- Dalam menghadapi segala tantangan hidup. Yang kita kedepankan adalah Kejujuran dan kerja keras. Jadi jangan bersikap bagai putra/putri mahkota, bagai anak papa dan anak mama yang manja dan segala keinginannya harus cepat dituruti dan terpenuhi. USAHA/KERJA KERAS yang dibarengi dengan DOA dan TAWAKKAL, itulah yang tidak boleh pernah ditinggalkan. Itulah agaknya takdir kita.
Allah adalah tempat kembali segala urusan dan Dia Maha segala-galanya. Jadi teruslah laksanakan shalat tahajjud, shalat hajat, shalat dhuha, shalat witir, disamping shalat fardlu (wa’bud Rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin/teruslah sembah Tuhanmu sampai al-yaqin/maut mendatangimu), jangan pernah malu dan bosan ‘mengetuk pintu-Nya’ dan ‘mengemis’ kepada-Nya untuk kesuksesan urusan dunia dan akherat.
Komentar
Posting Komentar